Harga akuisisi tersebut setara dengan sekitar 98 kali price-to-earnings ratio (P/E) annualized. Namun, jika dibandingkan dengan harga pasar, valuasi transaksi tersebut hanya mencerminkan premi sekitar 14 persen terhadap harga penutupan saham INET pada Kamis (1/10/2026).
"Ke depan, ada dua hal utama yang belum diketahui dan perlu dimonitor investor. Pertama, besaran rights issue DOOH, yang mencakup harga pelaksanaan dan jumlah saham baru yang akan diterbitkan," tulis Stockbit, Jumat (2/10/2026).
Meski RUPSLB akan meminta persetujuan pencairan pinjaman hingga Rp2 triliun untuk membiayai akuisisi INET, plafon shareholder loan dari SII mencapai Rp5 triliun.
Dengan demikian, ukuran rights issue berpotensi lebih besar dari kebutuhan Rp2 triliun untuk akuisisi INET, mengingat DOOH masih memiliki sejumlah rencana ekspansi ke depan.
Investor juga perlu mencermati harga konversi shareholder loan menjadi saham. Harga tersebut nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan besarnya dilusi terhadap pemegang saham minoritas DOOH.