"Jadi kalau kita pilah sustainable finance dengan kredit total secara keseluruhannya, pertumbuhannya dua kali lebih cepat. Dan tren ini sudah terjadi tiga tahun berturut-turut. Jadi memang komitmen bank dalam mendukung program pemerintah ini, dengan bekerja sama dengan regulator, kita terus lanjutkan," tutur Vera.
Dijelaskan Vera, pihaknya saat ini juga terus mengakselerasi pelaksanaan operasional perusahaan yang ramah lingkungan dengan telah berkontribusi terhadap pengurangan CO2 887,8 ton. Perbankan saat ini juga berupaya mengurangi polusi dan meminimalisir pembuangan sampah melalui inisiatif daur ulang yang mencapai sekitar 13 ton sampah.
Vera mengakui bank memang bukan perusahaan manufaktur yang berbicara mengenai limbah hasil olahan dan sebagainya. Namun ditekankannya, bank juga banyak menghasilkan sampah, salah satunya yang telah menjadi perhatian BBCA dalam tiga tahun terakhir adalah sampah elektronik.
"Tahun ini yang kami selesaikan itu terkait dengan arsip. Arsip di bank itu banyak sekali. Bisa dibayangkan setiap akad kredit itu pasti ada dokumennya. Itu baru akad kredit, belum bicara funding, nasabah buka rekening dan sebagainya dokumennya juga ada dan harus disimpan. Untuk arsip yang sudah selesai masa penyimpanannya, tahun ini kita mulai daur ulang. Memang jadi pekerjaan tambahan, tapi kalau komitmen kita mendukung how the bank can promoting enviromentally-friendly operation, saya pikir itu hal yang sangat bagus," papar Vera.
Dicontohkannya juga, mesin Electronic Data Capture (EDC) yang rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi juga menjadi bentuk lain sampah yang dapat mengganggu penerapan prinsip ESG. Dalam setahun perseroan bisa mengumpulkan lebih dari satu ton sampah mesin EDC.