IDXChannel - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeklaim bahwa perhatian para pelaku pasar modal nasional, mulai dari pelaku pasar hingga emiten yang melantai di bursa saham Indonesia, terhadap penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social and Governance/ESG) perusahaan mengalami tren peningkatan signifikan.
Klaim tersebut didasarkan, di antaranya, pada kesadaran perusahaan tercatat untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip ESG dalam menjalankan kinerja operasional bisnisnya. Kesadaran tersebut disebut BEI telah merebak di berbagai sektor industri yang ada di bursa saham domestik.
Klaim tersebut dibenarkan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sebagai salah satu pelaku utama industri perbankan di Indonesia, pihak BBCA juga menilai bahwa penerapan prinsip ESG telah berjalan dengan cukup baik di industri perbankan nasional. Penilaian itu setidaknya bisa didasarkan pada realisasi kinerja pembiayaan berkelanjutan (sustainable financing) yang terpantau semakin berkembang.
"Kalau kita melihat industri perbankan secara keseluruhan, kinerja pembiayaan terkait sustainable financing itu sebenarnya terus berkembang. Khusus di BCA saja, total portofolio yang kami salurkan terkait sustainable financing itu sudah mencapai 25 persen dari total kredit yang sebesar Rp675 triliun untuk posisi Juni 2022 lalu," ujar Direktur Keuangan BBCA, Vera Eve Lim, dalam seminar virtual Capital Market Summit & Expo (CSME) 2022, Kamis (13/10/2022).
Per semester I-2022, menurut Vera, penyaluran kredit untuk sektor-sektor berkelanjutan BCA berhasil tumbuh sebesar 21,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp169,5 triliun. Catatan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 13,8 persen (yoy).
"Jadi kalau kita pilah sustainable finance dengan kredit total secara keseluruhannya, pertumbuhannya dua kali lebih cepat. Dan tren ini sudah terjadi tiga tahun berturut-turut. Jadi memang komitmen bank dalam mendukung program pemerintah ini, dengan bekerja sama dengan regulator, kita terus lanjutkan," tutur Vera.
Dijelaskan Vera, pihaknya saat ini juga terus mengakselerasi pelaksanaan operasional perusahaan yang ramah lingkungan dengan telah berkontribusi terhadap pengurangan CO2 887,8 ton. Perbankan saat ini juga berupaya mengurangi polusi dan meminimalisir pembuangan sampah melalui inisiatif daur ulang yang mencapai sekitar 13 ton sampah.
Vera mengakui bank memang bukan perusahaan manufaktur yang berbicara mengenai limbah hasil olahan dan sebagainya. Namun ditekankannya, bank juga banyak menghasilkan sampah, salah satunya yang telah menjadi perhatian BBCA dalam tiga tahun terakhir adalah sampah elektronik.
"Tahun ini yang kami selesaikan itu terkait dengan arsip. Arsip di bank itu banyak sekali. Bisa dibayangkan setiap akad kredit itu pasti ada dokumennya. Itu baru akad kredit, belum bicara funding, nasabah buka rekening dan sebagainya dokumennya juga ada dan harus disimpan. Untuk arsip yang sudah selesai masa penyimpanannya, tahun ini kita mulai daur ulang. Memang jadi pekerjaan tambahan, tapi kalau komitmen kita mendukung how the bank can promoting enviromentally-friendly operation, saya pikir itu hal yang sangat bagus," papar Vera.
Dicontohkannya juga, mesin Electronic Data Capture (EDC) yang rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi juga menjadi bentuk lain sampah yang dapat mengganggu penerapan prinsip ESG. Dalam setahun perseroan bisa mengumpulkan lebih dari satu ton sampah mesin EDC.
"Di situ lah perlu ada effort khusus bagaimana me-recycle mesin ini sehingga bisa zero waste. Chip-nya aja bisa diekspor, belum bicara kartu plastik. Kartu ATM, kartu debit, kartu kredit, kan ada yang tidak bisa dipakai lagi. Itu kami kumpulkan dari cabang. Jadi ini saya pikir environment itu tidak hanya bicara financing, tapi juga bagaimana bank beroperasi mendukung ramah lingkungan, itu juga suatu kontribusi," ungkap Vera.
BCA saat ini juga memiliki 71 gedung yang mengadopsi fitur bangunan ramah lingkungan. Selain itu, sebanyak 23.056 karyawan atau 100 persen telah menyelesaikan pelatihan pembiayaan berkelanjutan.
"Sampai saat ini sudah 100 persen seluruh karyawan itu mengikuti sosialisasi upgrade mengenai ESG yang kami lakukan secara digital. Memang ada tantangan bagaimana membuat training terkait ESG ini menjadi suatu hal yang menarik, tidak bosan, itu butuh effort tersendiri. Nah sampai sejauh ini sudah seluruh karyawan kita lakukan dan ini jadi program rutin," tegas Vera. (TSA)