Padahal, pertumbuhan nominal PDB Indonesia sebesar 9,2 persen yoy pada kuartal I-2026 dinilai sejalan dengan pertumbuhan pendapatan korporasi dan percepatan laba bersih inti emiten.
“Investor asing kemungkinan akan lebih menghargai keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas, yakni ketika depresiasi rupiah tidak menggerus capital gain,” tulis Wisnu.
Karena itu, CGSI menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih mungkin diperlukan untuk menahan pelemahan rupiah. Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menjaga kesehatan anggaran negara, termasuk melalui rasionalisasi belanja program MBG. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.