IDXChannel - Pasar komoditas dan mata uang global diprediksi menghadapi pekan yang krusial di akhir April 2026.
Kombinasi dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah, transisi kepemimpinan di Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), serta kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump menjadi faktor penentu fluktuasi harga emas dan minyak mentah dunia.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, ketegangan di Selat Hormuz yang memicu penutupan jalur distribusi energi oleh Iran telah mendorong harga minyak melambung tinggi dan berdampak langsung pada inflasi global.
“Nah Iran sendiri ya mengatakan bahwa siap untuk perang. Artinya apa? Minggu depan ini, akhir pekan, akhir bulan April ini cukup krusial. Apakah akan terjadi perang atau akan terjadi perdamaian di wilayah Timur Tengah. Kejadian di Timur Tengah ini cukup menonjol karena berhubungan dengan Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (26/4/2026).
Harga emas dunia yang ditutup pada level USD4.708 per troy ons diperkirakan masih memiliki ruang penguatan yang lebar.
Ibrahim memproyeksikan jika tensi geopolitik terus memanas, harga emas bisa melesat ke level resistensi USD4.779 per troy ons, yang akan mendorong harga logam mulia domestik ke kisaran Rp2.865.000 per gram.
Sebaliknya, jika terjadi pendinginan suasana, level dukungan (support) pertama berada di USD4.651 per troy ons atau setara Rp2.800.000 per gram untuk harga logam mulia.
"Apa yang mempengaruhi logam mulia emas dunia? Harga minyak, kemudian indeks dolar berfluktuasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Yang pertama adalah faktor geopolitik. Kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika. Kemudian yang ketiga kebijakan bank sentral. Kemudian yang keempat adalah supply and demand," tutur dia.
Dari sisi mata uang, indeks dolar diproyeksikan bergerak di rentang 96,6 hingga 102,5. Fokus pasar tertuju pada pergantian Gubernur Bank Sentral AS dari Jerome Powell ke Kevin Warsh di akhir bulan ini.
Ibrahim menilai, sosok Kevin Warsh kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi jika harga minyak terus memicu inflasi, meskipun ada tekanan politik dari Gedung Putih.
Ibrahim juga mencatat adanya perombakan di jajaran militer AS oleh Trump sebagai persiapan jika perundingan gencatan senjata dengan Iran gagal.
“Trump sendiri menginginkan, kalau seandainya gagal dalam perundingan gencatan senjata, Amerika akan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Iran yang ada di Selat Hormuz. Nah ini berarti genderang perang yang akan dilakukan oleh Amerika dan ini akan membuat ketegangan tersendiri,” tutur Ibrahim.
Di tengah ancaman perang yang panjang, negara-negara anggota BRICS dilaporkan terus memborong emas sebagai cadangan devisa mereka. Hal ini menjadi faktor fundamental yang menjaga harga emas tetap kokoh meski dolar berfluktuasi.
“Negara-negara anggota BRICS tahu bahwa kemungkinan besar perang ini akan panjang. Sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi negara-negara Bank Sentral anggota BRICS untuk memupuk kekayaannya dengan membeli logam mulia,” kata Ibrahim.
(DESI ANGRIANI)