IDXChannel - Gelombang akuisisi kembali menghangatkan lantai bursa. Dalam sepekan terakhir, deretan emiten kompak mencatat lonjakan harga saham, dipicu manuver strategis para pemilik modal yang mengubah peta kendali perusahaan.
PT Buana Artha Anugerah Tbk (STAR) memasuki babak baru setelah terjadi transaksi besar di pasar negosiasi pada 20 November 2025. Dalam transaksi tersebut, PT Kencana Selaras Sejahtera melepas 1.544.925.000 saham STAR, setara 32,19 persen, kepada Calculus Investment Pte. Ltd. dengan harga Rp88 per saham.
Calculus Investment Pte. Ltd., perusahaan investment holding yang berkantor di 9 Temasek Boulevard, Suntec Tower Two, Singapura, kini resmi menjadi pengendali langsung perseroan. Perubahan ini menandai pergeseran penting dalam struktur pemegang saham STAR, setelah sebelumnya kendali berada di tangan PT Kencana Selaras Sejahtera.
Sebagai pengendali baru, Calculus Investment wajib memenuhi ketentuan POJK 9/2018 mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka, termasuk pelaksanaan tender wajib (mandatory tender offer) kepada para pemegang saham minoritas.
Kabar pergantian pengendali langsung ini disambut positif oleh pasar. Sepanjang satu pekan terakhir, harga saham STAR melesat 18,52 persen ke Rp96 per saham. Dalam sebulan, kenaikannya mencapai 31,51 persen.
STAR sendiri memiliki perjalanan panjang sejak didirikan dengan nama PT Star Asia International pada 2010. Perusahaan kemudian berganti nama menjadi PT Star Petrochem sebelum akhirnya mengadopsi nama PT Buana Artha Anugerah Tbk pada 2019. Sejak 2018, STAR menyediakan produk manajer investasi melalui entitas anak untuk mendukung operasional dan menjaga keseimbangan usaha.
Pendiri PT Remala Abadi Tbk (DATA), Budi Aditya Erna Mulyanto, tengah bersiap mengambil alih emiten properti PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP). Budi berencana membeli 637,5 juta saham atau 51 persen kepemilikan ATAP dari pengendali saat ini, PT Trimitra Prawara.
Direktur Trimitra Prawaraland, Edo Noviardi, mengatakan bahwa Budi dan PT Trimitra Prawara telah menandatangani Kesepakatan Awal jual beli saham pada 20 November 2025. Dokumen tersebut menjadi dasar negosiasi rencana pengambilalihan.
“Setelah Rencana Pengambilalihan selesai dilaksanakan, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi pemegang saham Perseroan,” kata Edo dalam keterbukaan informasi.
Edo menjelaskan, akuisisi ini dilakukan Budi untuk ekspansi usaha dan investasi. Diwartakan sebelumnya, ATAP saat ini memiliki dua proyek properti, yakni Bumi Abhirama Residence di Sawangan, Depok, serta Cibungbulang Townhill (Citoh) di Kabupaten Bogor.
Saat ini, PT Trimitra Prawara masih memegang 76 persen saham ATAP, sementara 20 persen dimiliki publik dan sisanya dikuasai manajemen.
Budi dikenal di industri teknologi sebagai pendiri perusahaan Internet Service Provider (ISP) Remala Abadi, yang kemudian diakuisisi Djarum Group melalui PT Ifortek Solusi Infotek. Selain itu, ia juga tercatat memiliki 13,6 persen saham di PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) dan menjabat sebagai komisaris di perusahaan tersebut.
Seiring kabar akuisisi tersebut, harga saham ATAP terbang 45,08 persen ke Rp177 per unit sepanjang pekan ini.
Grup Sampoerna Strategic (Grup Sampoerna) mengumumkan penjualan seluruh kepemilikan sahamnya di PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) kepada AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan dari raksasa global asal Korea Selatan, POSCO International Corporation.
Grup Sampoerna melalui Twinwood Family Holdings Limited (Twinwood) menjual saham SGRO sebesar 65,721 persen.
Presiden Direktur Grup Sampoerna, Bambang Sulistyo meyakini bahwa langkah ini akan membawa SGRO pada prospek pertumbuhan bisnis yang lebih baik di bawah kepemilikan baru.
“Kami sangat bersyukur karena telah menemukan rumah baru bagi SGRO. Kami yakin, pemilik baru akan menjadi rumah yang baik bagi para pegawai dan membawa SGRO pada prospek pertumbuhan bisnis yang lebih baik ke depan,” ujar Bambang dalam keterangan resmi, Kamis (20/11/2025).
Bambang menilai POSCO International merupakan pemilik baru yang paling tepat karena pengalaman dan komitmennya pada industri kelapa sawit di Indonesia, yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan.
Penjualan SGRO ini memberikan kesempatan bagi Grup Sampoerna untuk fokus pada lini bisnis strategis yang ada saat ini dan menjajaki peluang di sektor-sektor baru.
“Hal ini juga merupakan kesempatan bagi kami untuk memfokuskan sumber daya kami di lini bisnis saat ini dan menjajaki sektor lainnya yang berpotensi di Indonesia,” kata dia.
Grup Sampoerna memiliki grup bisnis lain seperti PT Bank Sahabat Sampoerna, Sampoerna Kayoe, PT Sampoerna Land, dan usaha filantropi melalui Putera Sampoerna Foundation (fokus pendidikan).
Dalam transaksi ini, Deutsche Bank bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif untuk Twinwood, didampingi oleh Baker McKenzie (Singapura dan Indonesia) sebagai kuasa hukum.
Dalam pernyataannya, dikutip Dow Jones Newswires, Baker McKenzie menyebut divestasi ini menjadi langkah penting dalam transformasi bisnis Grup Sampoerna. Aksi tersebut dinilai membuka ruang bagi konglomerasi Indonesia itu untuk menggarap peluang baru yang lebih selaras dengan kebutuhan bisnis dan tren pasar saat ini.
POSCO International merupakan perusahaan global bagian dari POSCO Group yang bergerak di bidang perdagangan, energi, baja, dan agribisnis. Di Indonesia, POSCO Group telah terlibat di sektor baja (melalui PT Krakatau POSCO) dan energi (melalui kerja sama dengan Pertamina Hulu Energi).
Jejak POSCO International di industri sawit Indonesia sudah dimulai sejak 2011 di Papua Selatan melalui PT Bio Inti Agrindo. Saat ini, POSCO juga mengoperasikan pabrik penyulingan minyak sawit di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Di tengah aksi divestasi pengendali tersebut, saham SGRO melejit 26,72 persen dan menutup pekan di level Rp7.350 per saham.
Saham emiten otomotif PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA) menjadi sorotan setelah terjadi perubahan pengendali perseroan melalui transaksi di pasar negosiasi pada 19 November 2025. Dalam transaksi tersebut, PT Falcon Asia Investama menjual 1.122.137.000 saham BOGA, setara 29,50 persen, kepada GX Archipelago Pte. Ltd. dengan harga Rp520 per saham.
GX Archipelago Pte. Ltd., perusahaan investment holding yang berbasis di 21B Bukit Pasoh Road, Singapura, resmi menjadi pengendali langsung yang baru.
Masuknya GX Archipelago membawa konsekuensi regulasi. Sebagai pengendali baru, perusahaan asal Singapura tersebut wajib mengikuti ketentuan dalam POJK 9/2018 mengenai pengambilalihan perusahaan terbuka, termasuk pelaksanaan tender wajib (mandatory tender offer) kepada para pemegang saham minoritas.
Sentimen positif langsung terasa di pasar. Sepanjang pekan ini, saham BOGA melonjak 58,49 persen hingga mencapai level Rp840 per saham. Pelaku pasar menilai kenaikan tersebut dipicu antisipasi terhadap rencana aksi korporasi lanjutan setelah perubahan pengendali. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.