Namun, para analis memperingatkan kesenjangan transaksi berjalan indonesia ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan terus meningkatnya ketegangan Politik di timur tengah antara AS dan Iran, serta Rusia dan Ukraina.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.720-Rp17.770 per USD.
(NIA DEVIYANA)