"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar yang telah ditempuh, prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi, serta stabilitas nilai tukar Rupiah dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI-Rate," tutur Perry.
Langkah tersebut menandai sikap akomodatif BI dalam memacu pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
Rupiah menjadi mata uang emerging market Asia dengan kinerja terburuk terhadap dolar AS tahun ini, dan terus melemah sejak awal Oktober hingga diperdagangkan mendekati rekor terendahnya.
Selain itu, langkah ini juga memperkuat tren penurunan suku bunga, setelah dalam RDG sebelumnya BI Rate berada di level 5,00 persen.
Diketahui, sejak September 2024 hingga September 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.