Sejalan dengan perubahan arah bisnis, GPSO sebelumnya menargetkan pendapatan sebesar Rp92,47 miliar, atau meningkat sekitar 1.584 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 sebesar Rp5,49 miliar. Dengan target tersebut, perseroan menargetkan laba bersih Rp10,36 miliar, berbalik dari posisi rugi sebesar Rp3,18 miliar pada tahun 2025, mencerminkan upaya GPSO dalam memperkuat kinerja operasional, meningkatkan efisiensi, serta mengoptimalkan kontribusi dari lini usaha utama.
Pada perdagangan saat ini, saham GPSO bertengger di level Rp284 per saham. Harga ini terhitung atraktif mengingat komitmen investasi dari Tjokro Group yang telah menyuntikkan dana segar melalui aksi private placement senilai Rp28,46 miliar dengan harga pelaksanaan jauh di atas harga pasar saat ini, yakni sebesar Rp427 per saham.
Sementara itu, menilik Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per Juni 2026, jumlah pemegang saham GPSO tercatat naik tipis sebanyak 43 investor menjadi 4.470 investor, dibandingkan bulan Mei 2026 yang sebesar 4.427 investor. Kenaikan retail ini mencerminkan basis investor yang semakin solid dan minat publik yang terjaga.
Selain itu, GPSO juga menepis kekhawatiran pasar terkait pemenuhan regulasi bursa. Saham ini dipastikan tidak masuk dalam radar notifikasi khusus terkait high shareholding concentration (HSC) atau pemenuhan free float. Saat ini, saham publik (free float) GPSO telah mencapai 56,61%, jauh di atas batas minimal regulasi, yang sekaligus menjamin likuiditas perdagangan saham ini di pasar reguler.
Terpisah, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat pergerakan saham GPSO yang saat ini berada di level Rp284, saham ini sedang berada dalam fase konsolidasi sehat pasca-akumulasi. Untuk jangka pendek pelaku pasar bisa mencermati level support di Rp268-Rp276 sedangkan resistance terlihat di area Rp300-Rp316 dengan catatan area support terdekat menjaga tren minor. Jika berhasil menembus Rp300, target berikutnya adalah Rp316.