IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat dua hari berturut-turut pada Selasa (14/7/2026), didorong kenaikan harga minyak nabati pesaing di pasar Chicago dan Dalian, serta menguatnya harga minyak mentah dunia.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,08 persen menjadi 4.582 ringgit per ton pada pukul 15.28 WIB.
"Kenaikan tajam harga minyak mentah WTI dan minyak kedelai Chicago semalam memberikan dukungan positif terhadap sentimen pasar," kata seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, dikutip Reuters.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) naik 0,3 persen setelah melonjak 3,35 persen pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian menguat 0,2 persen dan kontrak minyak sawit naik 0,24 persen.
Harga CPO umumnya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen ke level tertinggi dalam empat pekan setelah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, sementara kedua negara meningkatkan serangan di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sementara itu, ringgit Malaysia, mata uang acuan perdagangan CPO, melemah 0,2 persen terhadap dolar AS sehingga membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Dari sisi regulasi, Komisi Eropa pada Senin mengumumkan bahwa impor produk turunan minyak sawit ke Uni Eropa akan mulai dikenai aturan anti-deforestasi mulai Desember 2027. Sementara itu, produk kulit dikecualikan dari ketentuan tersebut. (Aldo Fernando)