IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) naik lebih dari 1 persen pada Kamis (26/3/2026), bangkit setelah dua hari penurunan, didukung penguatan minyak kedelai Chicago, harga minyak mentah, serta data ekspor yang solid.
Kontrak acuan (futures) CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange meningkat 1,80 persen menjadi 4.577 ringgit Malaysia per ton pada pukul 14.37 WIB.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Anilkumar Bagani mengatakan, seperti dikutip Reuters, futures CPO terlihat diperdagangkan lebih tinggi, mengikuti kenaikan minyak kedelai Chicago dan pemulihan harga energi.
Dukungan juga datang dari kinerja ekspor minyak sawit yang kuat, dengan lembaga survei kargo memperkirakan ekspor periode 1-25 Maret naik antara 38,4 persen hingga 50,6 persen secara bulanan.
Bagani menambahkan, prospek kenaikan pajak ekspor minyak sawit Indonesia pada April turut mendorong penguatan harga.
Selain itu, selisih harga minyak sawit terhadap gas oil kembali melebar, sehingga meningkatkan daya tariknya sebagai bahan baku biofuel.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,77 persen, sementara kontrak minyak sawitnya bertambah 0,63 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga naik 0,36 persen.
Minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah naik lebih dari USD1 per barel setelah pulih dari pelemahan sesi sebelumnya, seiring kekhawatiran konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu aliran energi.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,73 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat minyak sawit menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing. (Aldo Fernando)