Sementara itu, impor minyak sawit turun 21 persen menjadi 0,8 juta ton, berdasarkan data Komisi Eropa.
Di sisi lain, penguatan ringgit sebagai mata uang perdagangan CPO turut menjadi faktor pembatas.
Ringgit menguat 0,17 persen terhadap dolar AS, sehingga harga komoditas tersebut menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)