IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) turun pada perdagangan Jumat (18/9/2026), tertekan pelemahan minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago serta penurunan harga minyak mentah.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,93 persen menjadi 4.890 ringgit per metrik ton hingga pukul 15.42 WIB.
Secara mingguan, kontrak tersebut masih menguat 1,56 persen.
Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, seperti dikutip Reuters, futures CPO berada di zona negatif pada Jumat, mengikuti tekanan jual yang melanda sebagian besar komoditas selama perdagangan Asia.
Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 1,56 persen, sementara kontrak minyak sawit melemah 1,64 persen. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,74 persen.
Pergerakan harga CPO kerap mengikuti minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Pelaku pasar juga mencermati pengumuman resmi pemerintah India terkait potensi penurunan tarif impor. Kebijakan tersebut dinilai dapat memengaruhi permintaan minyak sawit Malaysia.
Di sisi lain, harga minyak mentah turun untuk hari ketiga berturut-turut.
Penurunan terjadi setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Arab Saudi mereda, meski konflik di Timur Tengah kembali memanas menyusul pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman.
Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Dari sisi pasokan, produksi minyak sawit di Kalimantan, salah satu wilayah penghasil utama di Indonesia, diperkirakan turun 12-15 persen pada kuartal IV.
Seorang analis mengatakan perkebunan sawit terdampak cuaca kering berkepanjangan dan kebakaran yang meluas.
Sementara itu, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,51 persen terhadap dolar AS.
Penguatan ringgit membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)