Di tengah kebuntuan fiskal tersebut, Ibrahim memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan minggu ini.
Kebijakan ini diambil untuk merespons kondisi fiskal AS, meskipun rilis data penting seperti pengangguran dan inflasi kemungkinan tertunda akibat libur panjang.
Di sisi lain, konflik di Eropa yang terus memanas seiring permintaan rudal oleh Ukraina kepada Prancis untuk menghadapi serangan Rusia juga mendorong ketegangan.
Di Jepang, Perdana Menteri berfokus melegalkan kripto, yang kemungkinan berlawanan dengan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga rendah (anti-kenaikan suku bunga), sehingga membuat indeks dolar melemah dan emas menguat.
Sejalan dengan penguatan harga emas dunia, harga logam mulia di pasar domestik juga diproyeksikan mengalami kenaikan tajam.
"Pada saat harga emas dunia naik, logam mulia pun juga naik," tutur Ibrahim.
(DESI ANGRIANI)