Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan menyerang Teheran dengan “neraka” jika tidak tercapai kesepakatan hingga Selasa.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek mengatakan perhatian pasar masih akan tertuju pada perkembangan konflik dan arah suku bunga.
“Fokus pasar kemungkinan masih tertuju pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, harga minyak akan terus naik di tengah kondisi pasokan yang semakin ketat, sehingga menambah tekanan inflasi,” kata Bart Melek.
“Hal itu membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), memiliki ruang yang lebih sempit untuk melonggarkan kebijakan, bahkan bisa memicu kembali diskusi mengenai kenaikan suku bunga jika harga energi terus meningkat, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas,” imbuh dia.
Harga minyak sendiri bergerak naik tipis dalam perdagangan yang fluktuatif dan telah melonjak tajam sejak konflik dimulai.