Logam mulia tersebut telah turun lebih dari 14 persen sejak perang dimulai pada akhir Februari, yang mengganggu lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi serta memicu kekhawatiran inflasi.
Indeks dolar AS melemah dari kenaikan sebelumnya, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 0,2 persen, sehingga mengurangi biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Peningkatan harga minyak, yang mendorong inflasi lebih tinggi, memberikan tekanan kepada bank sentral untuk mempertahankan suku bunga atau bahkan menaikkannya. Hal ini, dengan demikian, masih menjadi hambatan bagi emas dalam jangka pendek,” tutur analis UBS, Giovanni Staunovo.
Meski kerap dipandang sebagai lindung nilai inflasi, emas cenderung tertekan dalam periode suku bunga yang tinggi.