IDXChannel - Harga emas dunia melonjak lebih dari 3 persen dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (27/1/2026), seiring ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang berkepanjangan mendorong investor memburu aset lindung nilai.
Emas spot (XAU/USD) ditutup melesat 3,43 persen ke USD5.180,62 per troy ons, usai sempat menyentuh puncak USD5.190,51 per troy ons. Sehari sebelumnya, harga emas untuk pertama kalinya menembus level psikologis USD5.000.
Sepanjang tahun ini, emas telah melesat lebih dari 18 persen, melanjutkan reli kuat tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang kombinasi faktor, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, hingga pembelian emas oleh bank sentral di tengah tren de-dolarisasi global.
“Reli biasanya berakhir ketika faktor pendorong yang membawa investor masuk ke pasar emas menghilang, dan itu sama sekali belum terjadi,” ujar Ahli Strategi Komoditas Bank of America, Michael Widmer, dikutip dari Reuters.
Kekhawatiran pasar kian meningkat setelah Presiden S Donald Trump pada Senin mengumumkan rencana penerapan tarif baru terhadap impor dari Korea Selatan.
Di saat yang sama, risiko penutupan sebagian pemerintahan AS juga membayangi menjelang tenggat pendanaan pada 30 Januari.
Pasar kini menaruh perhatian pada rapat kebijakan dua hari Federal Reserve (The Fed) yang dimulai Selasa.
Suku bunga diperkirakan tetap di level saat ini, sementara investor mencermati konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell pada Rabu, di tengah meningkatnya kekhawatiran soal independensi bank sentral.
Sementara itu, Deutsche Bank dan Societe Generale kini memproyeksikan harga emas mencapai USD6.000 per troy ons pada akhir tahun.
CME Group mencatat kompleks logamnya membukukan rekor transaksi harian tunggal sebanyak 3.338.528 kontrak pada 26 Januari, melampaui rekor sebelumnya 2.829.666 kontrak yang tercatat pada 17 Oktober 2025.
Harga perak spot melonjak 7,7 persen ke USD111,84 per troy ons, setelah mencetak rekor USD117,69 pada Senin.
Sepanjang tahun ini, perak telah naik lebih dari 57 persen, setelah melonjak 146 persen pada tahun lalu.
“Volatilitas ke depan akan tinggi, dengan risiko koreksi tajam pada perak,” kata Widmer.
Ia menambahkan, fundamental yang kuat dan arus masuk ke produk ETF berpotensi menopang target harga USD170.
Citi juga menaikkan proyeksi harga perak jangka pendek menjadi USD150 per ons, dari sebelumnya USD100.
Di sisi lain, platinum spot turun 5,1 persen ke USD2.616,05 per ons, setelah mencetak rekor USD2.918,80 pada sesi sebelumnya. Paladium melemah 3,2 persen ke USD1.919,08 per ons. (Aldo Fernando)