Sejak pecahnya perang Iran, harga emas juga masih melemah sekitar 19 persen, setelah kekhawatiran terhadap inflasi energi sempat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral pada semester I-2026 tercatat sebagai yang terendah sejak 2022, menurut World Gold Council.
Arus keluar dari exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencapai 45 ton pada kuartal II-2026, ketika harga emas mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2013, yakni sebesar 14 persen.
Dalam risetnya, J.P. Morgan menilai dengan pembelian bank sentral yang masih terbatas, minat investor ritel yang beralih ke aset lain, serta permintaan fisik di Asia yang masih lemah, arus investasi ke ETF yang sensitif terhadap suku bunga kembali menjadi pendorong utama pergerakan harga emas.
"Untuk mendorong reli yang lebih kuat di pasar logam, diperlukan ekspektasi penurunan suku bunga. Namun untuk saat ini, skenario tersebut baru diperkirakan terjadi paling cepat pada 2027," kata Wong.