"Pelaku pasar yang lebih awal masuk kembali ke logam mulia karena peluang kenaikan suku bunga telah berkurang dibandingkan pekan lalu. Dolar juga melemah tajam sehingga turut mendukung harga emas. Jeda konflik Iran juga memberikan sentimen positif," ujar analis logam independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Dolar AS diperdagangkan di dekat level terendah dalam enam pekan terhadap mata uang utama dunia, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar level terendah dalam sepekan.
Kondisi tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya menggelar pembicaraan yang "sangat baik" dengan Iran dalam negosiasi sepanjang hari, sehingga memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan segera mereda.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri, sementara turunnya imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
Meski demikian, harga emas masih turun sekitar 24 persen dibandingkan rekor tertinggi USD5.594,82 per ons yang dicapai pada Januari.