“Dolar yang lebih lemah telah membantu emas kembali menemukan pijakannya, tetapi ada kehati-hatian di pasar karena pelaku mencoba menafsirkan arti gencatan senjata tersebut,” ujarnya, dikutip Reuters.
Ia menambahkan, “Headline gencatan senjata sangat bullish bagi emas, tetapi harga telah terkoreksi dari level tertinggi terbaru karena mulai terlihat celah dalam kesepakatan.”
Israel dilaporkan membombardir lebih banyak target di Lebanon, yang menurut Teheran harus masuk dalam kesepakatan gencatan senjata, sementara belum ada tanda Iran mencabut blokade Selat Hormuz.
Kegagalan negosiasi dan kembali memanasnya konflik berisiko mendorong kenaikan biaya energi dan inflasi, yang dapat memaksa Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.
Kondisi ini berpotensi menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meski tetap dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.