Ibrahim merinci sederet faktor yang masih memengaruhi pergerakan harga emas. Pertama, faktor geopolitik di mana perang di Timur Tengah meluas. Houthi melakukan penyerangan terhadap bandara di Arab Saudi, begitu juga dengan Ukraina yang menyerang kapal berisi persenjataan dari Rusia ke Iran di Laut Kaspia.
Selain itu, Amerika Serikat telah mengumumkan kebijakan tarif baru berkisar 10-12,5 persen terhadap barang impor dari 60 negara mitranya, mulai dari kawasan Eropa, China, hingga India yang merepresentasikan sekitar 99,4 persen dari total nilai impor AS.
“Ini yang kemungkinan besar akan memanaskan situasi di luar geopolitik. Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), kita tahu bahwa minggu depan mereka akan melakukan pertemuan dengan kondisi harga minyak yang terus mengalami kenaikan. Hal ini akan mengangkat isu inflasi, inflasi tinggi berarti akan membuat Bank Sentral Amerika pertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)