IDXChannel - Harga emas dunia diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada pekan ini setelah sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) kembali membayangi pasar.
Sentimen investor di Wall Street berbalik bearish, meski investor ritel mulai kembali optimistis terhadap prospek logam mulia.
Berdasarkan survei mingguan Kitco News, mayoritas analis pasar memperkirakan harga emas melemah pada perdagangan pekan ini setelah emas kehilangan momentum penguatan pasca pertemuan The Fed.
Dari 10 analis yang berpartisipasi dalam survei Kitco, sebanyak tujuh analis atau 70 persen memperkirakan harga emas turun.
Sementara itu, hanya satu analis atau 10 persen yang memprediksi harga emas menguat, sedangkan dua analis lainnya atau 20 persen memperkirakan harga emas bergerak mendatar.
“Tidak berubah (tetapi volatil),” kata Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day.
Menurut dia, nada pernyataan The Fed serta komentar Ketua The Fed baru Kevin Warsh mengejutkan pasar, sehingga investor masih perlu mencerna perubahan arah kebijakan tersebut dalam beberapa hari dan pekan ke depan.
Analis Senior Pasar Barchart.com, Darin Newsom, juga melihat harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan pada pekan ini.
Tekanan terhadap emas muncul setelah pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Selain itu, penguatan dolar AS turut membebani harga emas karena membuat logam mulia yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pada perdagangan Jumat (19/6/2026) pekan lalu, harga emas spot turun 1,27 persen menjadi USD4.155,40 per ons. Emas sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 11 Juni di USD4.119,78 per ons.
Dengan penurunan tersebut, emas mencatatkan pelemahan mingguan ketiga secara berturut-turut.
Harga emas juga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) sejak 5 Juni, yang menunjukkan tekanan teknikal masih membayangi pasar.
“Emas menghadapi risiko penurunan lebih dalam ke wilayah pasar bearish dan menembus level USD4.000 per ons, karena logam mulia ini masih menghadapi lingkungan pasar yang penuh tantangan,” kata Analis Pasar Senior Tradu.com, perusahaan yang dimiliki Jefferies Financial Group, Nikos Tzabouras, dikutip Reuters.
Meski demikian, sentimen investor ritel di Main Street mulai membaik. Dalam jajak pendapat daring Kitco yang melibatkan 46 responden, sebanyak 25 investor atau 54 persen memperkirakan harga emas naik pekan ini. Sebanyak 16 investor atau 35 persen memperkirakan harga emas turun, sementara lima investor atau 11 persen melihat emas bergerak konsolidasi.
Perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed.
Agenda ekonomi utama mencakup rilis data awal aktivitas manufaktur dan jasa Juni, penjualan rumah baru Mei, serta data final produk domestik bruto (PDB) kuartal I dan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE).
Selain itu, investor juga akan mencermati data klaim pengangguran mingguan serta pesanan barang tahan lama Mei yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS ke depan. (Aldo Fernando)