“Dia juga dua kali mengatakan bahwa dia melihat suku bunga hanya bersifat membatasi di sektor perumahan, yang membuatnya lebih hawkish dibanding Powell. Saya pikir inilah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan dan dot plot menunjukkan sikap hawkish, dan Warsh tidak melakukan apa pun untuk meredakannya,” kata Wong.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember tahun ini mencapai 78 persen, naik dari 61 persen sebelum keputusan The Fed, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Dolar AS melanjutkan penguatan setelah keputusan tersebut, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Di sisi lain, harga minyak juga menguat sehingga kekhawatiran terhadap inflasi tetap terjaga.
Meski emas sering dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi cenderung menekan harga emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan pada pekan lalu setelah kekhawatiran inflasi akibat konflik Iran meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.