"Sebagian besar kontak industri memperkirakan harga tembaga menghadapi tekanan turun dalam jangka pendek akibat dolar AS yang kuat, tertundanya pemangkasan suku bunga Fed dengan inflasi yang tinggi, serta lemahanya pemulihan permintaan di China pasca Tahun Baru Imlek,” kata analis Citi, seperti dikutip Reuters.
Dolar AS sedikit melemah tetapi tetap mendekati level tertinggi 10 bulan pada Senin. Dolar yang lebih kuat membuat komoditas yang dihargakan dalam greenback menjadi kurang terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Citi menambahkan, prospek jangka panjang tembaga tetap bullish, sementara harga jangka pendek bisa mendapatkan dukungan dari restocking pasca Tahun Baru Imlek, terutama di sektor jaringan listrik.
Aluminium juga berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran inflasi yang didorong minyak, meski harga di bursa Shanghai dan London bergerak berbeda arah.
Kontrak aluminium Shanghai Futures Exchange turun 0,51 persen ke 25.155 yuan per ton, sementara kontrak aluminium acuan tiga bulan di LME naik 0,93 persen ke USD3.471 per ton. Kecemasan akan kekurangan pasokan akibat perang di Timur Tengah turut mendukung harga.