IDXChannel - Harga minyak dunia turun pada Kamis (12/2/2026) akibat melemahnya permintaan, meredanya kekhawatiran konflik baru di Timur Tengah, serta ekspektasi peningkatan pasokan.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup di level USD67,52 per barel, jatuh 2,71 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) berakhir di USD62,84 per barel, merosot 2,77 persen.
“Permintaan minyak global tahun ini naik lebih lambat dari proyeksi sebelumnya,” kata International Energy Agency pada Kamis, dikutip Reuters.
Lembaga tersebut juga memperkirakan surplus pasokan yang cukup besar meski sempat terjadi gangguan produksi pada Januari.
Minyak Brent dan WTI berbalik melemah setelah laporan bulanan IEA dirilis. Sebelumnya, harga sempat mendapat dukungan dari kekhawatiran terkait dinamika AS-Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan saat meninggalkan Washington bahwa Presiden AS Donald Trump tampaknya tengah merumuskan solusi atas konflik dengan Iran terkait isu senjata nuklir.
"Fakta bahwa Presiden Trump terus bernegosiasi dengan Iran akan mengurangi risiko geopolitik," ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.
Lipow menilai proyeksi IEA menunjukkan penurunan permintaan 2026 yang cukup signifikan. Ia juga menyebut pasar mengantisipasi peningkatan pasokan dari Venezuela.
Pada Rabu, Trump mengatakan setelah pertemuan dengan Netanyahu bahwa belum ada kesepakatan final mengenai langkah selanjutnya terhadap Iran, namun negosiasi dengan Teheran akan terus berlanjut.
Trump juga menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan Middle East jika tidak tercapai kesepakatan. Tanggal dan lokasi putaran perundingan berikutnya belum diumumkan.
Kenaikan tajam persediaan minyak mentah AS membatasi penguatan harga pada awal perdagangan.
Stok minyak mentah AS naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu, menurut Energy Information Administration (EIA), jauh melampaui kenaikan 793.000 barel yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters.
Tingkat utilisasi kilang di AS turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4 persen dalam sepekan, berdasarkan data EIA.
Dari sisi pasokan, ekspor produk minyak Rusia melalui jalur laut pada Januari naik 0,7 persen dibanding Desember menjadi 9,12 juta metrik ton, didorong tingginya produksi bahan bakar serta penurunan musiman permintaan domestik di Russia, menurut sumber industri dan perhitungan Reuters. (Aldo Fernando)