Futures menunjukkan potensi penguatan pasar saham Asia yang sebelumnya tertekan perang dan lonjakan harga energi.
Sebelumnya, harga minyak ditutup bervariasi pada Selasa (7/4). Brent turun 0,5 persen ke USD109,27 per barel karena kekhawatiran harga energi tinggi dapat menekan pertumbuhan ekonomi, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5 persen ke USD112,95 dan mencatat level tertinggi sejak Juni 2022.
Di sisi lain, Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan perang Iran dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee juga menyatakan konflik berisiko memicu inflasi dan memperlambat ekonomi, sehingga menyulitkan bank sentral menentukan arah kebijakan.
Kesepakatan gencatan senjata sementara ini menjadi katalis utama pergerakan pasar, dengan pelaku pasar kini mencermati apakah perundingan damai dapat berlanjut dan benar-benar mengembalikan stabilitas pasokan energi global. (Aldo Fernando)