Meski demikian, keraguan terhadap kesepakatan itu masih muncul. Sejumlah pakar memperingatkan bahwa aktivitas pengiriman dan ekspor energi membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali pulih.
Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan pihaknya meyakini Iran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final sebelum Israel menarik diri dari Lebanon.
"Untuk saat ini, pasar memberikan kepercayaan besar terhadap keberhasilan rencana ini, dengan mengabaikan sejumlah persoalan rumit seperti kompensasi finansial, sanksi, dan terutama kesepakatan nuklir yang memuaskan, yang sebagian besar menjadi alasan terjadinya perang," ujar analis dari perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam catatan riset.
Kabar mengenai kesepakatan awal tersebut mendorong sejumlah bank investasi, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi, memangkas proyeksi harga minyak mereka.
Faktor lain yang turut menekan harga minyak adalah kekhawatiran terhadap ekonomi China, meningkatnya inflasi global dan suku bunga, serta seruan AS untuk mencapai perdamaian antara Rusia dan Ukraina.