sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Jatuh 8 Persen, Terendah dalam 2 Bulan usai Demokrat Kuasai Kongres AS

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
05/11/2026 06:48 WIB
Harga minyak dunia anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Rabu (4/11/2026), mencatatkan penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan.
Harga Minyak Jatuh 8 Persen, Terendah dalam 2 Bulan usai Demokrat Kuasai Kongres AS. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Jatuh 8 Persen, Terendah dalam 2 Bulan usai Demokrat Kuasai Kongres AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak dunia anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Rabu (4/11/2026), mencatatkan penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan.

Pelemahan terjadi setelah Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres Amerika Serikat (AS) dalam pemilu sela (midterm elections).

Hasil pemilu tersebut memicu spekulasi bahwa pergeseran kekuatan politik di Washington dapat mempercepat berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman mendatang ditutup anjlok 8,7 persen menjadi USD94,62 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 8,3 persen ke USD88,12 per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut mencatatkan penutupan terendah sejak 31 Agustus.

Kekalahan Partai Republik membuat Trump kini menghadapi pilihan antara mencari jalan keluar melalui perundingan atau mengambil risiko eskalasi konflik yang lebih besar.

Dua sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk mengatakan, posisi Trump yang melemah dan menghadapi Kongres yang dikuasai Demokrat membuatnya memiliki insentif lebih besar untuk mencapai kesepakatan.

Kongres yang dikuasai oposisi juga berpotensi membatasi ruang gerak militer pemerintahannya.

Dengan kondisi tersebut, serangan skala penuh terhadap Iran dinilai semakin kecil kemungkinannya.

Meski demikian, para analis Teluk memperingatkan bahwa kesepakatan yang membuat Iran terlihat sebagai pihak yang menang dan Trump tampak kalah justru berpotensi memicu tindakan gegabah, bukan meredakan ketegangan.

Dalam wawancara dengan Financial Times pada Selasa (3/11/2026), Trump mengatakan AS belum memiliki rencana segera untuk menyerang Iran.

Pada Rabu, Trump juga mengakui bahwa perang dengan Iran turut berperan dalam kekalahan besar Partai Republik pada pemilu paruh waktu. Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR dan Senat AS.

Wakil Presiden AS JD Vance turut mengambil jarak dari keputusan pemerintah untuk berperang.

Pada Rabu, dia mempertanyakan manfaat perang tersebut dan menyebut konflik dengan Iran sebagai faktor utama di balik penolakan keras pemilih terhadap Partai Republik.

Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan penguasaan Kongres oleh Partai Demokrat berpotensi memperketat pengeluaran militer AS di Timur Tengah sekaligus meningkatkan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu lebih cepat.

Dia menambahkan, potensi peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta pernyataan Trump yang tidak berencana segera menyerang Iran turut menambah tekanan terhadap harga minyak.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam pernyataan tertulis mengatakan permusuhan AS terhadap Iran akan tetap berlanjut, terlepas dari partai mana yang berkuasa di Washington.

Kelompok Houthi Yaman juga mengklaim telah menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi.

Namun, belum ada konfirmasi dari otoritas Arab Saudi mengenai klaim tersebut. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement