sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melonjak 3 Persen Dipicu Serangan Udara dan Konflik Internal Iran

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
24/04/2026 07:07 WIB
Harga minyak mentah melonjak pada Kamis (23/4/2026) setelah laporan menyebut sistem pertahanan udara mencegat target di atas Teheran.
Harga Minyak Melonjak 3 Persen Dipicu Serangan Udara dan Konflik Internal Iran. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Melonjak 3 Persen Dipicu Serangan Udara dan Konflik Internal Iran. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak mentah melonjak pada Kamis (23/4/2026) setelah laporan menyebut sistem pertahanan udara mencegat target di atas Teheran serta adanya perebutan pengaruh antara kelompok garis keras dan moderat di Iran.

Setelah lonjakan tersebut, harga acuan memangkas sebagian kenaikannya.

Minyak mentah Brent ditutup di USD105,07 per barel, naik 3,1 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berakhir di USD95,85 per barel, melesat 3,11 persen.

Radio Israel melaporkan pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim yang berkomunikasi dengan Amerika Serikat (AS) melalui perantara Pakistan untuk mengakhiri perang.

Pengunduran diri Qalibaf dinilai sebagai kemenangan bagi kelompok garis keras dalam pemerintahan Iran.

Media Iran melaporkan sistem pertahanan udara di Teheran mencegat target di atas kota tersebut.

Hal ini terjadi setelah laporan serangan drone terhadap kelompok Kurdi Iran yang menjadi oposisi pemerintah Teheran di sebuah pangkalan di Irak.

Iran juga menunjukkan kendali yang semakin kuat atas Selat Hormuz dengan merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, menyusul gagalnya pembicaraan damai yang sebelumnya diharapkan Washington dapat membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut AS “untuk menembak dan menenggelamkan kapal apa pun” yang memasang ranjau di selat tersebut.

Partner Again Capital, John Kilduff, menilai pasar diguncang oleh arus berita yang saling bertolak belakang, mulai dari perpanjangan gencatan senjata oleh Trump hingga ancaman terhadap kapal Iran.

“Sebagian orang menyebutnya headline bingo, saya menyebutnya roulette berita,” ujar Kilduff, dikutip Reuters.

“Saya khawatir suatu hari kita akan bangun dan menyadari kondisi pasokan jauh lebih buruk, dan harga akan menyesuaikan ke level yang jauh lebih tinggi,” imbuh dia.

Meski Trump memperpanjang gencatan senjata atas permintaan mediator Pakistan, Iran dan AS masih membatasi lalu lintas kapal melalui selat tersebut, yang sebelumnya mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global harian hingga pecahnya perang pada 28 Februari.

Trump, tanpa menyertakan bukti, mengatakan AS memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut dan bahwa jalur itu “tertutup rapat” hingga Iran mencapai kesepakatan.

Iran menyita dua kapal di perairan itu pada Rabu. Trump juga tetap mempertahankan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran.

Namun, sekitar 10,7 juta barel ekspor minyak mentah Iran tercatat melintasi selat tersebut dan keluar dari area blokade Angkatan Laut AS pada periode 13-21 April, menurut perusahaan analitik data Vortexa.

Sumber pelayaran dan keamanan menyebut militer AS telah mencegat sedikitnya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengarahkannya menjauh dari wilayah dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan, Trump belum menetapkan batas waktu berakhirnya perpanjangan gencatan senjata tersebut. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement