IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melonjak lebih dari 4 persen pada Rabu (18/2/2026), seiring pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan pasokan di tengah kekhawatiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kenaikan itu juga terjadi setelah perundingan Ukraina-Rusia di Jenewa berakhir tanpa menghasilkan terobosan.
Kontrak berjangka (futures) minyak pemanas AS juga melonjak sekitar 5 persen.
Minyak mentah Brent ditutup naik 4,35 persen ke USD70,35 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 4,59 persen ke USD65,19 per barel.
Kedua kontrak mencatatkan penutupan tertinggi sejak 30 Januari, berbalik arah sehari setelah sempat menyentuh level terendah dua pekan.
“Kenaikan tajam terjadi menjelang akhir sesi, dengan harga melonjak lebih dari USD3 setelah muncul laporan media bahwa Israel meningkatkan status kewaspadaan menyusul indikasi meningkatnya kemungkinan serangan terhadap Iran oleh AS dan Israel,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip Reuters.
“Pergerakan besar harga minyak hari ini sepenuhnya didorong faktor geopolitik. Pasar terus bereaksi terhadap tajuk utama terkait pertemuan Amerika Serikat dan Iran, serta Rusia dan Ukraina,” ujar Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.
Ia menambahkan, pasar kini memperhitungkan tambahan risiko gangguan pasokan.
Pada Selasa, harga minyak sempat turun setelah Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran dan Washington telah mencapai pemahaman mengenai prinsip-prinsip panduan pembicaraan nuklir.
Namun pada Rabu, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan Iran dan Rusia akan menggelar latihan angkatan laut di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada Kamis.
Saat perundingan dimulai Selasa, media pemerintah Iran menyebutkan bahwa Iran menutup sementara sebagian Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak global, sebagai langkah pengamanan ketika Garda Revolusi menggelar latihan militer.
Belakangan, media pemerintah menyatakan selat tersebut ditutup selama beberapa jam, tanpa menjelaskan apakah telah sepenuhnya dibuka kembali.
Analis komoditas utama SEB, Bjarne Schieldrop, dalam catatannya menyebut Iran kini memahami taktik negosiasi Presiden AS Donald Trump.
“Iran juga tahu bahwa gangguan ekspor minyak dari Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak ke USD150 per barel adalah hal terakhir yang diinginkan Trump. Iran punya waktu untuk bernegosiasi dengan tenang,” tulis Schieldrop.
Konsultan politik Eurasia Group dalam catatan kepada klien pada Selasa menyebut terdapat probabilitas 65 persen terjadinya serangan militer AS terhadap Iran sebelum akhir April.
“Mereka memantau jumlah peralatan militer yang membanjiri kawasan dari AS, yang mengindikasikan bahwa permusuhan bisa segera terjadi,” ujar Partner Again Capital, John Kilduff.
Di sisi lain, dua hari perundingan damai Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir tanpa terobosan.
Presiden Volodymyr Zelensky menuding Moskow mengulur upaya mediasi AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun, dan menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai “sulit.”
Trump berulang kali menekan Ukraina agar menyetujui kesepakatan yang berpotensi mengandung konsesi menyakitkan, di tengah serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina dan kemajuan di medan perang.
Kilduff menambahkan, terdapat upaya baru untuk memperketat ekspor Rusia.
Jika perundingan benar-benar gagal seperti yang disiratkan Zelensky, pasar bisa melihat penurunan signifikan ekspor Rusia ke pasar global, yang jelas akan menopang harga.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati laporan persediaan minyak AS dari American Petroleum Institute (API) pada Rabu dan Energy Information Administration (EIA) pada Kamis. Analis yang disurvei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS naik pekan lalu. (Aldo Fernando)