sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Naik Lebih 1 Persen, Risiko Iran Jadi Sorotan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
10/02/2026 07:18 WIB
Otoritas Maritim di bawah DOT AS mencatat bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman secara historis menghadapi risiko dinaiki oleh pasukan Ir
Harga Minyak Naik Lebih 1 Persen, Risiko Iran Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Naik Lebih 1 Persen, Risiko Iran Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari 1 persen pada Senin (9/2/2026) setelah Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS) atau DOT mengeluarkan imbauan kepada kapal berbendera AS agar menjauh sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman.

Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent ditutup naik 1,5 persen, ke level USD69,04 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,3 persen, dan berakhir di USD64,36 per barel.

Otoritas Maritim di bawah DOT AS mencatat bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman secara historis menghadapi risiko dinaiki oleh pasukan Iran, termasuk insiden terbaru pada 3 Februari.

Lembaga tersebut juga menyarankan kapal berbendera AS untuk tetap berada dekat perairan Oman saat melintas ke arah timur di Selat Hormuz.

Langkah ini kembali memicu kekhawatiran bahwa ketegangan antara AS dan Iran dapat berujung pada gangguan pasokan minyak. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz, jalur vital di antara Oman dan Iran.

“Perdagangan minyak mentah pekan ini, dan mungkin hingga akhir bulan, tidak banyak ditentukan oleh fundamental minyak, melainkan oleh masuk dan keluarnya premi risiko terkait Iran,” ujar analis penasihan perdagangan minyak Ritterbusch and Associates, dikutip Reuters.

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah dan melanjutkan penurunan pekan lalu setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan perundingan tidak langsung, menyusul pembicaraan yang mereka sebut berlangsung positif.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran pada Sabtu menyatakan negaranya akan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang oleh pasukan AS, yang belakangan meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di kawasan tersebut.

“Situasinya sangat sulit dinilai ke mana arahnya. Kami memantau hari demi hari, kini menunggu penetapan tanggal untuk putaran kedua perundingan,” kata analis minyak UBS Giovanni Staunovo.

Investor juga mencermati upaya negara-negara Barat untuk membatasi pendapatan Rusia dari ekspor minyak yang menopang perang di Ukraina.

Komisi Eropa mengusulkan larangan luas terhadap berbagai layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut.

Di India, yang sebelumnya merupakan pembeli terbesar minyak Rusia, para pengelola kilang dilaporkan menghindari pembelian untuk pengiriman April.

“Jika India sepenuhnya menghentikan pembelian minyak Rusia, hal tersebut akan menjadi perkembangan bullish yang berkelanjutan,” kata analis pasar minyak Sparta.

Sementara itu di Kazakhstan, ladang minyak raksasa Tengiz yang dioperasikan oleh konsorsium pimpinan Chevron telah pulih hingga sekitar 60 persen dari produksi puncaknya dan menargetkan kembali ke kapasitas penuh pada 23 Februari, menurut sumber Reuters.

Di sisi lain, persediaan minyak mentah AS pekan lalu diperkirakan naik, sementara stok bensin dan distilat diperkirakan turun, berdasarkan jajak pendapat awal Reuters terhadap analis pasar pada Senin. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement