Perdana Menteri Pakistan pada Selasa menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Tawaran ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari, dengan alasan adanya pembicaraan dengan pejabat Iran yang menghasilkan “poin-poin kesepakatan besar”, yang sempat menekan harga minyak lebih dari 10 persen.
Iran pada Senin membantah telah melakukan negosiasi dengan AS.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan pasar menerima sinyal yang saling bertentangan.
Ia menilai pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pembicaraan tidak berjalan baik dan perang akan terus berlanjut.
Sumber Reuters menyebutkan posisi negosiasi Iran semakin keras sejak perang dimulai dan Teheran akan menuntut konsesi besar dari AS jika upaya mediasi berujung pada negosiasi serius.