Gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, telah memaksa negara-negara Timur Tengah memangkas produksi minyak secara signifikan.
Kepala perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, mengatakan dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak sejak perang Iran dimulai pada Februari.
Meski demikian, Massabni menilai pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan politik di kawasan sehingga setiap perubahan situasi diplomatik berpotensi memicu pergerakan harga yang signifikan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.