Namun, dalam jangka pendek, kekhawatiran terhadap pasokan tambang menjadi katalis yang lebih dominan.
Menurut data awal International Copper Study Group (ICSG) yang dirilis pada Agustus, produksi tambang tembaga global turun 1,1 persen pada semester I-2026. Produksi konsentrat tembaga, yang merupakan bahan baku utama smelter, bahkan turun 2,6 persen.
Penurunan produksi cukup tajam terjadi di sejumlah negara produsen tembaga utama, termasuk Chile, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo (DRC).
Kondisi tersebut terjadi meski produksi meningkat dari sejumlah proyek baru yang mulai beroperasi di negara seperti Peru dan Mongolia.
Di sisi lain, pasar tembaga olahan masih mencatat surplus. Produksi tembaga olahan global meningkat 2,4 persen pada semester I-2026, terutama didorong oleh China dan DRC.