Kinerja perusahaan diperkirakan memasuki siklus pertumbuhan baru yang didorong pengembangan Phase 8 serta peningkatan kapasitas bisnis hilir.
Saham ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,7 kali EV/EBITDA FY2026, dengan risiko utama berupa koreksi harga tembaga dan emas.
Untuk BRMS, BRI Danareksa menetapkan target harga Rp1.100 per unit. Pemulihan produksi emas serta ekspansi tambang bawah tanah diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan perseroan.
Namun, perusahaan masih menghadapi risiko berupa penurunan kadar emas dan potensi keterlambatan eksekusi proyek.
Valuasi BRMS berada di sekitar 5,1 kali price-to-book (P/B) FY2026.
Sementara itu, ITMG diproyeksikan tetap mampu mencatatkan ketahanan laba berkat harga batu bara yang masih relatif tinggi.