sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Icip Peluang di Saham Komoditas Tambang, ANTM hingga TINS Jadi Pilihan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
29/07/2026 09:27 WIB
Di tengah tingginya volatilitas pasar, sektor komoditas dinilai masih menjadi salah satu tema investasi paling menarik pada 2026.
Icip Peluang di Saham Komoditas Tambang, ANTM hingga TINS Jadi Pilihan. (Foto: iStock)
Icip Peluang di Saham Komoditas Tambang, ANTM hingga TINS Jadi Pilihan. (Foto: iStock)

IDXChannel – Di tengah tingginya volatilitas pasar, sektor komoditas dinilai masih menjadi salah satu tema investasi paling menarik pada 2026.

Prospek kinerja yang solid, valuasi yang relatif murah, serta sejumlah katalis pertumbuhan membuat saham-saham berbasis komoditas tetap layak dikoleksi.

Dalam risetnya yang dirilis Selasa (28/7/2026), BRI Danareksa Sekuritas menempatkan enam emiten sebagai top picks sektor komoditas, yakni PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

ANTM menjadi salah satu pilihan utama dengan target harga Rp4.900 per unit.

BRI Danareksa menilai perseroan berpotensi mencatatkan kinerja yang kuat dari bisnis emas dan nikel, didukung peluang peningkatan nilai tambah melalui pengembangan hilirisasi.

Saham ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 12,9 kali price-to-earnings (P/E) tahun penuh (FY) 2026, dengan risiko utama berasal dari potensi pelemahan harga jual rata-rata (ASP) emas.

Untuk INCO, BRI Danareksa memasang target harga Rp8.000 per unit. Prospek emiten ini ditopang monetisasi cadangan bijih nikel serta kontribusi awal proyek High Pressure Acid Leach (HPAL).

Meski demikian, penurunan harga nikel global masih menjadi risiko yang perlu dicermati. Saham INCO diperdagangkan pada valuasi 15 kali P/E FY2027.

Sementara itu, TINS direkomendasikan dengan target harga Rp4.800 per unit. BRI Danareksa memperkirakan laba perusahaan memasuki fase akselerasi seiring pemulihan produksi timah.

Risikonya berasal dari potensi keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan normalisasi harga timah. Valuasi saham TINS berada di kisaran 11 kali P/E FY2026.

Di sektor tembaga dan emas, AMMN menjadi pilihan dengan target harga Rp6.000 per unit.

Kinerja perusahaan diperkirakan memasuki siklus pertumbuhan baru yang didorong pengembangan Phase 8 serta peningkatan kapasitas bisnis hilir.

Saham ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,7 kali EV/EBITDA FY2026, dengan risiko utama berupa koreksi harga tembaga dan emas.

Untuk BRMS, BRI Danareksa menetapkan target harga Rp1.100 per unit. Pemulihan produksi emas serta ekspansi tambang bawah tanah diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan perseroan.

Namun, perusahaan masih menghadapi risiko berupa penurunan kadar emas dan potensi keterlambatan eksekusi proyek.

Valuasi BRMS berada di sekitar 5,1 kali price-to-book (P/B) FY2026.

Sementara itu, ITMG diproyeksikan tetap mampu mencatatkan ketahanan laba berkat harga batu bara yang masih relatif tinggi.

BRI Danareksa memberikan target harga Rp34.000 per unit dengan valuasi 5,4 kali P/E FY2026.

Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah pelemahan harga batu bara dan perubahan kebijakan ekspor. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement