Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada upaya pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Lonjakan harga energi global berpotensi memberikan beban tambahan pada belanja subsidi, sehingga langkah cepat diperlukan agar defisit tidak melampaui ambang batas legal.
"Kombinasi ketidakpastian global serta kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off, sehingga menekan pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu," ujar Hari.
Selain fiskal, investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Konsensus pasar memprediksi BI-Rate akan dipertahankan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah kuatnya tekanan eksternal.
Dengan demikian, IPOT memprediksi IHSG akan bergerak bervariasi (mixed) dengan kecenderungan melemah. Selain faktor eksternal, volume transaksi diperkirakan akan menyusut karena faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran.
"Selama konflik tersebut masih berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off. Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah terkait upaya menjaga defisit APBN agar tetap terkendali, yang menjadi indikator penting bagi investor asing dan domestik dalam menilai stabilitas makroekonomi Indonesia,” jelasnya.