Sentimen utama di pasar global bersumber dari rilis data ketenagakerjaan AS bulan Juni yang berada di bawah ekspektasi pasar. Penyerapan tenaga kerja nonfarm payrolls hanya bertambah 57.000 pekerjaan dari proyeksi awal sebesar 110.000, dengan tingkat pengangguran bertahan di level 4,2 persen. Rapor ini dinilai meredam potensi langkah agresif The Fed dalam mengerek suku bunga dalam waktu dekat.
Sementara dari sisi domestik, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh perilisan sejumlah indikator ekonomi strategis oleh otoritas terkait. Di antaranya adalah pengumuman posisi cadangan devisa periode Juni pada Selasa (7/7/2026), data indeks keyakinan konsumen periode Juni pada Rabu (8/7/2026), serta laporan penjualan eceran periode Mei pada Kamis (9/7/2026).
Di sisi lain, Bank Indonesia tetap berada pada koridor pro-stabilitas setelah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen pada pertengahan Juni lalu.
"Oleh karena itu, pergerakan rupiah di sekitar area Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS, arah yield SBN/SRBI, serta kelanjutan arus dana asing akan menjadi indikator utama untuk menilai apakah tekanan domestik mulai mereda atau kembali membebani risk appetite investor," pungkasnya.
(Rahmat Fiansyah)