Meski peluang pemulihan mulai terbuka, Henan mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan profil risiko dan horizon investasi masing-masing. Ketidakpastian pasar masih cukup tinggi, terutama menjelang keputusan MSCI yang dinilai akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Riset tersebut juga mencatat bahwa sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, tujuh siklus koreksi besar yang telah selesai pada akhirnya selalu diikuti pemulihan hingga IHSG kembali menembus level puncak sebelumnya dan mencetak rekor baru.
Siklus pertama terjadi pada 2002 ketika pasar terdampak kombinasi pecahnya gelembung saham teknologi (dot-com bubble) dan peristiwa Bom Bali. Pada periode tersebut, IHSG mengalami penurunan hingga 38,8 persen dengan fase penurunan berlangsung sekitar 5,9 bulan.
Siklus kedua terjadi saat Krisis Keuangan Global atau Global Financial Crisis (GFC) 2008 yang dipicu runtuhnya Lehman Brothers. Periode ini menjadi koreksi terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia, dengan IHSG anjlok 60,7 persen dalam waktu sekitar 9,6 bulan.
Selanjutnya, pada 2011 pasar menghadapi dampak Krisis Utang Eropa dan gejolak pasar global yang dikenal sebagai Black Monday. Koreksi pada periode ini relatif lebih ringan, dengan penurunan 22 persen dan berlangsung sekitar 2,1 bulan.