Secara year to date (YTD), investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp71,29 triliun di pasar ekuitas.
Dari sisi makroekonomi domestik, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, melampaui konsensus 5,1 persen.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas menilai pertumbuhan tersebut masih banyak ditopang kebijakan dan belum menunjukkan pemulihan permintaan swasta secara organik.
Sementara itu, inflasi Juli 2026 melandai menjadi 2,88 persen yoy dengan deflasi 0,14 persen secara bulanan. PMI manufaktur juga kembali masuk zona ekspansi di level 50,2.
Dari eksternal, data payroll AS yang lebih lemah mendorong penurunan yield US Treasury dan mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September. Kondisi tersebut turut menopang aset pasar berkembang, termasuk Indonesia.