IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun tajam pada Selasa (19/5/2026), tertekan pelemahan rupiah ke rekor terendah serta derasnya outflow asing akibat rebalancing indeks global MSCI dan FTSE.
Hingga penutupan sesi I hari ini, indeks acuan tersebut melemah 3,08 persen menjadi 6.396,27, membukukan penurunan 6 hari berturut-turut sekaligus mencatatkan level terendah sejak April 2025.
Nilai transaksi mencapai Rp15,11 triliun, dengan volume perdagangan 26,12 miliar saham.
Tekanan jual sangat terasa di pasar, dengan sebanyak 639 saham turun dan hanya 103 saham naik, sedangkan 217 sisanya stagnan.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 1,85 persen setelah sempat tergelincir 4,38 persen selama intraday.
Sementara, nilai tukar rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa menjadi Rp17.728 per USD hingga siang ini.
Mengutip laporan Reuters, pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik, transparansi pasar, serta independensi bank sentral.
Sentimen eksternal turut memperburuk tekanan pasar setelah konflik Iran-AS kembali memicu ketidakpastian global dan mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya turut menanggapi pelemahan rupiah saat menghadiri agenda di Jawa Timur pada Sabtu (16/5/2026). Menurut dia, pelemahan kurs tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa karena mayoritas tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah.
Menanti RDG BI
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (19/5), seiring tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut.
Menurut BRI Danareksa, pelemahan rupiah yang mencetak rekor terendah baru dipicu kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Secara historis, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar saham karena meningkatkan biaya dana dan menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Namun, dalam situasi saat ini, BRI Danareksa menilai langkah kenaikan suku bunga justru dapat dipersepsikan positif oleh pasar apabila mampu memperkuat stabilitas rupiah dan meredam tekanan capital outflow dari pasar keuangan domestik.
“Pergerakan saham perbankan yang masih relatif kuat hari ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi kebijakan hawkish sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makro,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.
Melansir dari Reuters, mayoritas ekonom memprediksi BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (20/5/2026), di tengah tekanan berkepanjangan terhadap rupiah.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters pada periode 11-18 Mei, sebanyak 16 dari 29 ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga reverse repo tujuh hari (BI-Rate) menjadi 5 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.