sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Rebound Pekan Lalu, Pasar Kini Pantau Isu Selat Hormuz

Market news editor Rahmat Fiansyah
13/04/2026 08:58 WIB
ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rebound signifikan hingga 6,14 persen sepanjang pekan lalu (6-10 April).
ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rebound signifikan hingga 6,14 persen sepanjang pekan lalu (6-10 April). (Foto: iNews Media/Aldhi Chandra)
ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rebound signifikan hingga 6,14 persen sepanjang pekan lalu (6-10 April). (Foto: iNews Media/Aldhi Chandra)

Untuk sepekan ke depan (13-17 April), Hari mengimbau para trader dan investor mencermati sejumlah sentimen dari global dan domestik. Dari global, menjelang sepekan perdagangan, pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan kembali menghadapi tekanan seiring kegagalan negosiasi terbaru antara AS dan Iran yang belum menghasilkan kesepakatan konkret. 

"Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi. Sentimen negatif terutama berasal dari risiko berlanjutnya gangguan distribusi energi global, mengingat kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, masih menjadi titik krusial dalam rantai pasok minyak dunia," tuturnya.

Tanpa adanya kesepakatan, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan suplai yang dapat mendorong harga energi tetap tinggi, sehingga berpotensi menahan laju penurunan inflasi global dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve juga kembali menjadi lebih hawkish, seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi. Hal ini berpotensi menjaga yield obligasi AS tetap elevated dan menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko, khususnya saham berbasis growth yang sensitif terhadap suku bunga.

"Secara keseluruhan, dinamika ini mendorong investor global untuk kembali mengadopsi sikap risk-off dalam jangka pendek, dengan potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi. Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari negosiasi geopolitik serta sinyal kebijakan moneter global," katanya.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement