Sementara itu dinamika domestik diperkirakan akan dipengaruhi oleh dua katalis utama, yakni potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi serta langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah yang saat ini tertekan di kisaran 17.000 terhadap dolar AS.
Rencana pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi mencerminkan respons terhadap tren harga energi global yang masih tinggi, sekaligus upaya menjaga kesehatan fiskal dan keberlanjutan subsidi. Namun demikian, kebijakan ini berpotensi memicu tekanan inflasi jangka pendek, khususnya pada komponen transportasi dan logistik, yang dapat berdampak lanjutan terhadap daya beli masyarakat serta margin sektor-sektor berbasis konsumsi.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar yang cukup signifikan mendorong pemerintah dan otoritas terkait untuk menyiapkan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas Rupiah. Langkah-langkah yang berpotensi ditempuh antara lain intervensi di pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan aliran dana masuk melalui insentif pasar keuangan.
Hari menilai, pergerakan IHSG diperkirakan cenderung mixed dengan kecenderungan konsolidatif, seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang masih beragam di tengah posisi indeks yang telah mengalami rally dan mulai membentuk indikasi reversal jangka pendek. Dari sisi sektoral, sektor energi diperkirakan tetap menjadi salah satu motor penggerak utama, ditopang oleh ekspektasi harga komoditas yang masih elevated, sementara sektor transportasi laut juga menunjukkan penguatan lanjutan seiring membaiknya outlook permintaan dan tarif.
Selain itu, pergerakan saham-saham konglomerasi yang mulai menunjukkan pola reversal teknikal dapat membuka peluang trading jangka pendek, khususnya untuk strategi swing. Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat namun tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat.
(Rahmat Fiansyah)