sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Sempat Jatuh Lebih dari 2 Persen di Tengah Rontoknya Saham Konglo, Ada Apa?

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
12/01/2026 15:15 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tiba-tiba turun tajam hingga lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (12/1/2026) siang.
IHSG Sempat Jatuh Lebih dari 2 Persen di Tengah Rontoknya Saham Konglo, Ada Apa? (Foto: Freepik)
IHSG Sempat Jatuh Lebih dari 2 Persen di Tengah Rontoknya Saham Konglo, Ada Apa? (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tiba-tiba turun tajam hingga lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (12/1/2026) siang di tengah kejatuhan saham-saham konglomerasi.

Menurut data pasar, pada pukul 14.59 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,51 persen ke level 8.891,01. Sebelumnya, IHSG sempat merosot tajam hingga 2,48 persen ke posisi 8.715,41 pada rentang waktu 14.25-14.30 WIB, sebelum berbalik pulih cepat dan memangkas pelemahan hanya dalam 3–5 menit berikutnya.

Tekanan kuat datang dari saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu yang berkapitalisasi besar. Saham BRPT anjlok 7,10 persen, BREN melemah 4,22 persen, CDIA turun 5,23 persen, dan PTRO terkoreksi 6,43 persen.

Saham-saham Grup Bakrie, yang juga berada di bawah kendali Grup Salim, turut terimbas aksi jual. Saham BUMI melemah 4,33 persen setelah sebelumnya sempat terjungkal hingga 12 persen. Sementara itu, saham DEWA sempat anjlok 13 persen sebelum memangkas pelemahan menjadi 1,85 persen.

Aksi jual panik juga menyasar saham-saham milik Happy Hapsoro. Saham RAJA merosot tajam 10,19 persen, sementara anak usahanya, RATU, turun signifikan sekitar 9 persen.

Tekanan serupa terjadi pada saham tambang milik Grup Salim, AMMN, yang sempat jatuh hingga 8 persen. Saham properti milik Agung Sedayu, PANI, juga terkoreksi 5 persen.

Kejatuhan mendadak IHSG ini terjadi setelah indeks acuan tersebut sempat mencetak rekor dengan menembus level 9.000 untuk pertama kalinya secara intraday pada perdagangan 8 Januari 2026.

Dari sisi global, pasar turut mencermati perkembangan isu ini.

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada Minggu (waktu setempat) mengungkapkan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana serta melayangkan panggilan dewan juri terkait kesaksiannya di Kongres pada musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung The Fed.

Powell menilai langkah tersebut hanya sebagai dalih untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga.

Perkembangan ini menandai eskalasi tajam dalam konflik antara Powell dan Trump, yang telah berlangsung sejak awal masa jabatan Powell sebagai ketua The Fed pada 2018.

Di sisi lain, ancaman Trump untuk melakukan intervensi di Iran, di tengah meningkatnya aksi protes terhadap pemerintahan ulama, turut menopang harga minyak agar bertahan di level penguatan.

Situasi tersebut sekaligus menegaskan besarnya risiko geopolitik yang membayangi pasar sepanjang tahun ke depan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement