AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

IHSG Tertekan, Bursa Asia Rontok

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Rabu, 24 November 2021 12:19 WIB
Bursa saham di kawasan Asia siang ini terpantau serentak di zona merah. Hal yang sama juga terjadi pada IHSG.
IHSG Tertekan, Bursa Asia Rontok (FOTO: Ilustrasi/MNC Media)
IHSG Tertekan, Bursa Asia Rontok (FOTO: Ilustrasi/MNC Media)

IDXChannel - Bursa saham di kawasan Asia siang ini terpantau serentak di zona merah. Hal yang sama juga terjadi pada  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup berada di bawah tekanan sebesar -1,7 poin atau -0,03 persen di level 6.676,248 pada sesi pertama perdagangan Rabu (24/11/2021).

Hingga pukul 11:26 WIB, Nikkei 225 Jepang (N225) turun -1,78 persen di 29.243,50, Kospi Korea Selatan (KS11) tertekan -0,45 persen di 2.983,79, dan Hang Seng Hong Kong (HSI) terpuruk -0,21 persen di 24.598,92.

Shanghai Composite China melemah -0,10 persen di 3.585,65, Taiwan Weighted anjlok -0,28 persen di 17.616,02, dan Indonesia Composite Index / IHSG merosot -0,03 persen di 6.676,148.

Selain karena aksi profit taking, analis melihat penurunan pasar modal di Asia saat ini dipicu oleh kemungkinan pengetatan kebijakan moneter mengingat lonjakan inflasi di Amerika Serikat.

Kenaikan hasil Treasury AS ditambah gejolak harga minyak mentah juga dinilai semakin membebani pasar.

"Ada risiko bahwa Fed dapat mempercepat tapering dan pada gilirannya bisa membuat jadwal pengetatan kebijakan (suku bunga) dapat dimajukan, tentu hal ini berkontribusi terhadap dolar yang lebih kuat," kata Analis Bank of Singapura, Sim Moh Siong, dilansir Reuters, Rabu (24/11/2021).

Diketahui, imbal hasil obligasi AS untuk waktu 10 tahun mengalami peningkatan yang membuat Dolar AS menjadi kuat. Ini bakal sedikit mengganggu pasar Asia karena banyak mata uang (selain yuan China) akan terdepresiasi.

Kendati demikian, ada dukungan dari China saat People Bank of China (PBOC) memberikan pelonggaran kebijakan moneter demi menopang pemulihan ekonomi negaranya yang melambat.

Dalam laporan moneter kuartalan pada Jumat pekan lalu, PBOC menghapus sejumlah frasa penting dari laporan sebelumnya, seperti tidak akan membanjiri ekonomi setempat dengan stimulus dan mendukung pertumbuhan kredit. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD