"Bagi investor institusi global, kondisi ini justru memberikan kepastian sementara, karena mengurangi risiko rebalancing mendadak. Inilah yang menjelaskan mengapa pasar tidak bereaksi negatif secara agresif terhadap keputusan FTSE tersebut," tutur Hendra.
Dia menyoroti penguatan IHSG pada perdagangan hari ini menjadi sinyal penting bahwa pasar domestik mulai kembali menemukan ritme positifnya, meskipun di tengah berbagai isu struktural yang masih membayangi.
Hendra menekankan bahwa kenaikan ini tidak bersifat semu, karena didukung oleh penguatan yang merata di seluruh sektor, dengan sektor konsumer primer tampil sebagai pemimpin reli.
Dari sisi eksternal, sentimen global memberikan dorongan yang cukup kuat. Bursa Asia bergerak kompak menguat, dipimpin oleh Jepang setelah kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dipersepsikan pasar sebagai jaminan stabilitas politik dan kesinambungan kebijakan ekonomi.
Selain itu, Hendra menyoroti pelemahan indeks dolar AS mendekati level terendah bulanan yang memberi ruang bagi aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia, untuk kembali dilirik.