Konsentrasi outflow pada saham-saham big caps ini mencerminkan memburuknya persepsi investor global terhadap aset berisiko di Indonesia.
Salah satu pemicu utama pelemahan IHSG adalah tekanan pada nilai tukar rupiah. Mata uang domestik sempat menyentuh level terendah sepanjang masa (all-time low) di Rp17.315 per USD pada perdagangan intraday Kamis (23/4/2026).
Secara year-to-date (ytd), rupiah telah terdepresiasi sekitar 3,1 persen, sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya seperti baht Thailand (2,9 persen), peso Filipina (3,2 persen), won Korea Selatan (3 persen), dan rupee India (4,9 persen).
Tekanan terhadap rupiah semakin diperparah oleh kenaikan harga minyak global yang kembali menembus level psikologis USD100 per barel.
Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan melalui Selat Hormuz yang masih berlanjut, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.