Menurut Stockbit, meskipun harga minyak saat ini belum kembali ke puncak ketidakpastian konflik di pertengahan Maret 2026 yang sempat menyentuh kisaran USD120 per barel, tekanan terhadap fiskal Indonesia berpotensi meningkat apabila harga energi bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang cenderung menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara selektif. Dalam kondisi harga minyak tinggi, kebijakan tersebut berisiko memperlebar beban subsidi energi dan menekan ruang fiskal negara.
Untuk itu, investor disarankan mencermati langkah pemerintah dalam merespons skenario harga minyak yang tinggi berkepanjangan (higher-for-longer), termasuk kemungkinan realokasi anggaran maupun penyesuaian program belanja negara.
(DESI ANGRIANI)