Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan pasar dipengaruhi respons pelaku pasar terhadap penyampaian KEM-PPKF RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto, termasuk rencana kebijakan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) melalui BUMN sebagai eksportir tunggal.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada RDG Mei 2026, lebih tinggi dari ekspektasi pasar di level 5,00 persen.
Kebijakan tersebut mendorong penguatan rupiah dan berpotensi menahan tekanan capital outflow dalam jangka pendek.
BRI Danareksa memperkirakan IHSG masih bergerak terbatas dengan support di 6.220 dan resistance di 6.635. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis FOMC Minutes The Fed serta data domestik seperti Current Account dan M2 Money Supply sebagai katalis lanjutan.
Sementara, analis Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung variatif di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap asumsi RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor SDA.