Dalam risetnya, Jumat (13/3/2026), harga minyak dunia kembali melampaui USD100 per barel akibat konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi global.
Lonjakan ini turut memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan sentimen risk-off di pasar keuangan.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, kata BRI Danareksa, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar biaya impor dan menambah tekanan inflasi sehingga rupiah tetap rentan.
Ke depan, arah pergerakan rupiah dinilai sangat bergantung pada perkembangan geopolitik serta dinamika harga energi global.
Sementara, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada rapat kebijakan Selasa (17/3) mendatang.